Posted on 02 Oktober 2009 | 12 Comments
tags :
Aneh - Aneh
seperti biasa, malam ini begitu sampai rumah hal pertama yang saya lakukan adalah menyalakan komputer (lebih tepatnya login ke desktop, karena komputer saya sudah menyala sejak 2 hari yang lalu tanpa berhenti) . tak ada yang spesial dengan apa yang saya lakukan pada malam ini . sebagaimana hari-hari sebelumnya, saya membuka application yang ada di dock secara berurutan . gak ada perubahan juga dari sistematika application openingnya . firefox, pidgin, songbird . selalu begitu . dan begitu firefox terbuka, urutan sites yang saya buka pun tak berubah dari beberapa bulan yang lalu . yahoo mail, gmail, facebook . baru setelah itu membuka news site macam kompas, detik, washingtonpost, jakartapost . di lanjutkan dengan membuka forum favorit saya, kaskus dan warez-bb . forum pertama untuk cari info, yang kedua untuk cari stuff buat di download .

email terbuka dan muncullah berbagai macam diskusi dari milis yang saya ikuti . dari yang hanya debat kusir tentang hal gak jelas sampai pembahasan ilmiah yang menarik . facebook terbuka dan muncullah notification yang bejibun . gak ada yang menarik , selain foto bergaya lucu salah seorang teman . dan jadilah foto itu ajang saling mengejek . lumayan lah jadi hiburan anak kuliah yang lagi stres . hal yang sama pun terjadi ketika membuka pidgin . hanya offline massage yang seperti biasa . kecewa , karena tidak ada message darinya . bahkan sekedar buzz .
dan yah , sepertinya hari ini saya harus menunggu lagi . menunggu saat dimana saya bisa tersenyum sendiri karena kata-katanya yang hampir selalu lebay dan nasihatnya secara tidak langsung . mengingat itu, rencana untuk belajar buat exam terlupa . ah, sepertinya saya mulai sedikit tahu jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan beberapa tahun lalu ke salah seorang teman saya, "gimana sih rasanya jatuh cinta?"
[+]Read More...
[-]Summary only...

Posted on 26 September 2009 | 5 Comments
tags :
Islam in My Heart
oleh : Salim A. Fillah
pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu
pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi,
dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai
di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehatpun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
kubaca cendikiawan dinasti ming, feng meng long
menuliskan sebaitnya dalam ‘yushi mingyan’;
“bungapun layu jika berlebih diberi rawatan
willow tumbuh subur meski diabaikan”
maka kitapun menjaga jarak dan mengikuti nasihat ‘ali
“berkunjunglah hanya sekali-sekali, dengan itu cinta bersemi”
padahal saat itu, kau sedang dalam kesulitan
seperti katamu, kau sedang perlu bimbingan
maka seolah aku telah membiarkan
orang bisu yang merasakan kepahitan
menderita sendiri, getir dalam sunyi
-ataukah memang sejak dulu begitulah aku?-
dan sekarang aku merasa bersalah lagi
seolah hadirku kini cuma untuk menegur
hanya mengajukan keberatan, bahkan menyalahkan
bukan lagi penguatan, bukan lagi uluran tangan
-kurasa uluran tanganku yang dulupun membuat kita
hanya berputar-putar di kubangan yang kau gali itu-
kini aku hanya menangis rindu membaca kisah ini;
satu hari abu bakr, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini”, kata Sang Nabi pada majelisnya, “sedang kesal
maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya..”
“antara aku dan putera al khaththab”, lirih abu bakr
dia genggam tangan nabi, dia tatap mata beliau dalam-dalam
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan.”
tepat ketika abu bakr selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi bersabda
“lalu kalian berkata ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
“hanya abu bakr seorang yang langsung mengiya, ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?”
‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakr lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan. .”
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang
ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini.
[+]Read More...
[-]Summary only...

Posted on 17 September 2009 | 3 Comments
tags :
Chicken Soup

Al kisah, seorang pemuda yang dibesarkan dengan belaian kasih ibu tercintanya.
setelah berajak usia produktif, muncul keinginan besar dari pemuda tersebut ingin mandiri dan membahagiakan ibunya.
wal hasil.. dengan kerelaan yang berat, sang ibu merelakan anaknya merantau ke negeri seberang yang konon perekonomiannya jauh diatas bangsa ini, apa lagi dibandingkan dengan ekonomi di kampungnya.
seiring waktu dan secara bertahap sang anak mengalami kesuksesan di rantau, kesuksesan yang disertai dengan kesibukan yang seimbang. Gajinya yang tergolong besar bahkan sangat besar jika dibanding dengan pembesar yang ada di negeri ini memang layak diterima sang anak jika dilihat dengan aktivitas dan kesibukannya.
keinginan untuk membahagikan ibunya di kampung tetap merupakan skala prioritasnya. Hampir tiap bulan sang anak memberi ibunya uang yang nilainya sangat besar. Sang ibu membuat kantong dari kain, setiap kali sang ibu mendapatkan uang kiriman anaknya, sang ibu menyimpannya di kantong kain tersebut.
waktu terus berlalu.., sudah bertahun tahun sang anak tidak pulang. uang kiriman sang anak sudah memenuhi isi kantong kain milik ibunya, tidak terhitung lagi jumlah bersihnya. yang jelas jumlahnya jauuuh melebihi gaji sang anak untuk tiap bulannya.
Pagi hari raya pun tiba...
ini adalah pagi hari raya ke 5 kalinya sang anak tidak pulang ke kampung halamannya. Sang ibu duduk sendirian dikursi santainya, secarik kertas yang bertuliskan sederet nomor terlihat erat digenggaman sang ibu, beberapa kali dibacanya, kemudian digenggamnya kembali. Dengan bantuan seseorang di kampungnya, sang ibu meminta untuk dapat berbicara kepada anaknya lewat beberapa digitit nomor yang tercantum dikertas lusuh akibat eratnya genggaman.
Jauh dirantau sana, terdengar dering telpon selluler milik sang anak. Terlihat dilayar handphone beberapa digit nomor yang tidak dikenal.
komunikasi pun tersambungkan. .
"siapa ini..??" kata anaknya.
"ini ibumu mau bicara", jawaban dari seseorang yang membantu ibunya tersebut yang sejurus kemudian memberikan ganggang telpon ke ibu pemuda tersebut.
ganggang telpon sudah ditangan sang ibu, untuk beberapa saat tidak ada kata yang bisa diucapkan sang ibu. akhirnya hanya sebait kalimat aja yang keluar dari mulut sang ibu saat itu.
"Bisa kau pulang walau untuk satu hari, Nak??". sejurus kemudian sang ibu langsung meletakkan ganggang telpon ke dudukannya semula, bersamaan dengan itu dari handphon sang anak langsung terdengar nada bit berulang-ulang yang menunjukkan putusnya komunikasi.
Sang anak sudah tidak bisa konsentrasi lagi saat itu, naluri sebagai seorang anak mencuat, sosok sang ibu langsung terlintas ditiap butiran darah yang mengaliri otaknya, otaknya benar-benar buntu untuk memikirkan apapun, yang ada dalam isi otaknya adalah "pulang dengan amat sangat segera".
Tanpa persiapan dan perencanaan apapun, sang anak membatalkan apapun yang menjadi agendanya hari itu. Dirinya segera menuju arah bandara dan menaiki pesawat yang paling cepat keberangkatannya hari itu menuju ibu kota propinsi dimana kampungnya berada. Dari ibu kota propinsi tersebut sang anak harus menaiki bus beberapa jam untuk sampai kekampung halamannya.
Tiba dikampung... .
Lama sang anak berdiri di depan halaman rumah. sebuah rumah yang sudah lama ia tinggalkan dan terlihat sepi. Air matanya mengalir sebelum sosok ibunya terlihat olehnya, sang ibu yang sudah bertahun tahun ia tinggalkan. Sang ibu masih berada dikursi santainya, tidak ada kata-kata yang terlontar ketika itu melainkan hanya sembah sujud yang disertai isak tangis dan air mata sang anak. sementara sang ibu belum menampakkan reaksi apapun, belum terlihat butiran air mata yang merembes di pelupuk matanya. sikapnya masih sulit untuk ditebak ketika itu.
Beberapa menit kemudian...
situasi pun mereda, suasana sudah mulai sedikit kondusif untuk berbicara. Segala gejolak emosi yang tadinya tertahankan dan mendesak didada telah mulai mencair dan keluar beserta deraian air mata sang anak. Mereka berdua kemudian duduk dilantai dengan alas sebuah tikar pandan. Terlihat beberapa potong kue hari raya dan gelas minuman menghiasi jarak antara mereka berdua.
"berapa gaji kau sebulan nak..??", ibunya memulai pertanyaan.
"kalau dihitung dengan mata uang kita sekitar 50 juta". Jawab sang anak.
Kemudian sang ibu beranjak dari tempat duduknya, menuju kekamarnya dan mengambil sebuah kantong kain yang berisi penuh dengan uang kiriman anaknya. Kemudian sang ibu duduk kembali ditempat duduknya semula yang berada tepat didepan anaknya. Kemudian ibunya berkata :
"Sekarang dengarkan ibu, nak." Ibunya berkata dengan suara yang berat.
"Ibu mohon kepadamu untuk satu kali ini saja…" terdengar suara ibunya yang semakin berat, dan kemudia terlihat butiran air mata yang mulai merebes dipelupuk mata ibunya.
"engkau duduk disini selama 1 jam saja bersama ibu, dan ibu bayar waktumu ini dengan semua uang ini".
author : unknown
---
orang tua saya tidak menyekolahkan saya jauh-jauh hanya untuk jadi anak durhaka. semoga hingga saat saya tiba, orangtua saya tetap menjadi prioritas dalam hidup saya. Amin.
[+]Read More...
[-]Summary only...

Posted on 15 September 2009 | 2 Comments
tags :
Chicken Soup
Washington, DC Metro Station on a cold January morning in 2007. The man with a violin played six Bach pieces for about 45 minutes. During that time approx. 2 thousand people went through the station, most of them on their way to work. After 3 minutes a middle aged man noticed there was a musician playing. He slowed his pace and stopped for a few seconds and then hurried to meet his schedule.
- 4 minutes later:
the violinist received his first dollar: a woman threw the money in the hat and, without stopping, continued to walk.
- 6 minutes:
A young man leaned against the wall to listen to him, then looked at his watch and started to walk again.
- 10 minutes:
A 3-year old boy stopped but his mother tugged him along hurriedly. The kid stopped to look at the violinist again, but the mother pushed hard and the child continued to walk, turning his head all the time. This action was repeated by several other children. Every parent, without exception, forced their children to move on quickly.
- 45 minutes:
The musician played continuously. Only 6 people stopped and listened for a short while. About 20 gave money but continued to walk at their normal pace. The man collected a total of $32.
- 1 hour:
He finished playing and silence took over. No one noticed. No one applauded, nor was there any recognition.
No one knew this, but the violinist was Joshua Bell, one of the greatest musicians in the world. He played one of the most intricate pieces ever written, with a violin worth $3.5 million dollars. Two days before Joshua Bell sold out a theater in Boston where the seats averaged $100.
This is a true story. Joshua Bell playing incognito in the metro station was organized by the Washington Post as part of a social experiment about perception, taste and people's priorities. The questions raised: in a common place environment at an inappropriate hour, do we perceive beauty? Do we stop to appreciate it? Do we recognize talent in an unexpected context?
One possible conclusion reached from this experiment could be this: If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world, playing some of the finest music ever written, with one of the most beautiful instruments ever made. How many other things are we missing?
--
for me, i missed the spirit of ramadhan. the worst ramadhan i've ever had.
[+]Read More...
[-]Summary only...

Posted on 19 Juli 2009 | 11 Comments
tags :
Bisnis
Sierra 885u
Rp. 600.000
Spesifikasi:
* HSUPA (High Speed Upload Packet Access).
* download speed up to 7.2 Mbps
* upload upto 2 Mbps
* microSD slot
* TRU-Install automatic software installation
* OS Compatible list : Windows 2000, Windows XP, Windows Vista & Mac OS.
* USB Stick HSUPA Wireless Modem TERKECIL dari Sierra.
* Garansi 6 bulan
untuk yang garansi 3bulan harganya Rp.580.000,00
Hubungi saya .--==oo00oo==--
Huawei E220

Rp 780.000
Features :
* Support 7.2Mbps HSDPA services
* Upload speed 384Kbps
* HSDPA/UMTS (850/1900/2100MHz)
* GSM/GPRS/EDGE (850/900/1800/1900MHz)
* GARANSI 1 tahun
System Requirements :
-Support Windows 2000, Windows XP, Windows Vista and Mac Operating Systems
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
HUAWEI E172

Rp. 915.000
Vodafone Huawei E172 HSUPA USB Modem Stick
Modem terkecil Dan Elegan Untuk Internet
* HSUPA
* Download Speed up to 7,2 Mbps
* Upload Speed up to 2 Mbps
* Tutupnya ada tali jadi sulit untuk hilang
* Plug n play
* Compatible dengan semua Provider GSM
* Garansi 1 tahun
* System Requirements Windows (Vista and XP) and Mac OSX
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
HUAWEI E156G BY THREE

Rp 560.000
* Speed Download upto 3,6 Mbps
* Speed Upload upto 384 Kbps
* MicroSD card Slot
* Plug & Play .
* OS Compatible list : Windows 2000, Windows XP, Windows Vista & Mac OS.
* Garansi 6 bulan
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
Huawei E160

Rp. 625.000
Huawei E160 Produk dari O2
Garansi 6 bulan
Features Summary :
* HSDPA/WCDMA 2100Mhz
* Download Speed up to 3.6 Mbps
* Upload Speed up to 384 Kbps
* USB Interface
* Installs automatically and easy to use
* Micro SD Memory Card Slot (up to 4 GB)
Dimension:
Size: 70.1 mm X 25.7 mm X 11.6 mm
weight: 50g
System Requirements:
Windows 2000 / XP / Vista or Mac OS X 128MB of RAM
50MB free hard disk space
Termasuk di dalam paket:
1. Modem
2. Kabel USB
3. User Guide
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
HUAWEI E156G Original (bukan bundlingan 3 spt biasanya)

Rp 575.000
* HSDPA
* Berbentuk USB Stick, sangat kecil,
* MicroSD Card slot
* Download Speed = 3.6Mbps
* Upload speed = 384 Kbps.
* USB 2.0 480Mbps interface . (Compatible to almost all type of computer)
* Plug & Play .
* Fully support All GSM operators
* OS Compatible list : Windows 2000, Windows XP, Windows Vista & Mac OS.
* Garansi 6 bulan
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
HUAWEI E270 (Tersedia by Vodafone dan Tmobile)

Rp. 845.000
Main Features :
* HSUPA
* Download Speed up to 7.2Mbps
* Upload Speed up to 2Mbps
* SMS service
* Plug & Play, convenient for use
* Windows® 2000, XP & Vista Operating Systems
* Garansi 1 tahun
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
Huawei K3520

Rp 905.000
Features:
* HSDPA
* Download Speed up to 7.2Mbps
* Upload Speed up to 384Kbps
* micro SD slot
* Unlock untuk semua operator
* GARANSI 1 tahun
* Support Windows 2000, XP, Vista, MAC OS.
Hubungi saya .
--==oo00oo==--
Option Icon 225

Rp 560.000
Option Icon 225 HSDPA 3.5G
Garansi 6 bulan
Features :
- Small USB stick from factor 63 X 26 X 13 mm, weight of 40g
- Multimode HSDPA / UMTS / EDGE / GPRS / GSM
- Worldwide coverage with quad-band EDGE / GPRS / GSM
- HSDPA up to 7.2 Mbps
- EDGE / GPRS / GSM data up to 247 Kbps
- Zero-CD Plug n Play technology
- Transparent support for IPSec and VPN technology
System requirements :
- Compatible with all modern desktop and laptop PC’s
- Windows 2000 / XP Home / XP Pro / Vosta or MAC OS X
- 4 MB of free hard disk space
- Free USB Slot
Harga di atas belum termasuk ongkos kirim. Ongkos kirim bergantung dari jarak dan jumlah. Tertarik ?
Hubungi saya via YM :
shev_edison
shev_edison@yahoo.com
NB :
- saya tidak menerima pesanan selain daripada YM atau email saya yang insyAllah aktif 24 jam .
[+]Read More...
[-]Summary only...
